Kebudayaan Sulawesi Tenggara

Kebudayaan Sulawesi Tenggara- Sulawesi Tenggara merupakan salah satu dari enam provinsi di Pulau Sulawesi. Provinsi ini berada di selatan katulistiwa diantara 3º-6º Lintang Selatan dan 120º45′-124º60′ Bujur Timur.

Ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara ini yaitu kota Kendari dan kurang lebih luas provinsi ini sekitar 38.067.70 km². Provinsi ini terdiri dari delapan Kabupaten dan dua kota, yaitu:

  1. Kab. Kolaka
  2. Kab. Konawe
  3. Kab. Muna
  4. Kab. Buton
  5. Kab. Konawe Selatan
  6. Kab. Bombana
  7. Kab. Wakatobi
  8. Kab. Kolaka Utara
  9. Kota Kendari, dan
  10. Kota Bau-Bau.

Kebudayaan Sulawesi Tenggara

Kebudayaan Sulawesi Tenggara
angkat9pena.files.wordpress.com

Sulawesi Tenggara di huni oleh beberapa etnis suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah dan berbagai agama kepercayaan yang beragam yang menarik untuk kita ketahui. Berikut ini penjelasannya

Suku Bangsa Sulawesi Tenggara

Dari hasil pendataan jumlah masyarakat yang mendiami Sulawesi Tenggara ini yaitu dari suku Tolaki

  1. Suku Tolaki 36%
  2. Suku Buton 26%
  3. Suku Muna 19%
  4. Suku Moronene 10%
  5. Suku Wawonii 9%
  6. Suku Bajau
  7. Suku Kabaena

Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara

Bahasa daerah yang terdapat di Sulawesi Tenggara ini cukup banyak, berikut daftarnya:
  1. Bahasa Indonesia,
  2. Bahasa Tolaki
  3. Bahasa Moronene
  4. Bahasa Cia-Cia
  5. Bahasa Wolio
  6. Bahasa Muna
  7. Bahasa Kulisusu
  8. Bahasa Bajo
  9. Bahasa Wakatobi
  10. Bahasa Culambacu

Bahasa Morunene adalah bahasa mayoritas di Pulau Kabaena.

Agama Masyarakat Sulawesi Tenggara

Agama islam menjadi agama mayoritas masyarakat Sulawesi Tenggara

  • Agama Islam 95%
  • Agama Hindu 2,04%
  • Agama Kristen Protestan 1,84%
  • Agama Katolik 0,58%
  • Agama Buddha 0,04%
  • Agama Lain-lain 0,27%

Dalam artikel sebelumnya kami juga sudah membahas bagaimana kebudayaan Sumatera Barat. Jangan lupa baca juga ya untuk menambah wawasan kalian tentang kebudayaan yang berada di Indonesia ini.

Rumah Adat – Kebudayaan Sulawesi Tenggara

Rumah Adat Sulawesi Tenggara adalah bagian dari budaya Indonesia yang harus kita kenali dan kita jaga dan lestarikan, ya salah satu cara untuk melestarikannya adalah dengan kita mengenalnya.

Langsung saja mari kita bahas rumah adat apa saja yang terdapat di Sulawesi Tenggara di bawah ini.

Rumah Adat Mekongga

Rumah Adat Mekongga
situsbudaya.id

Rumah Adat Mekongga merupakan rumah adat yang berasal dari suku Raha (mekongga). Raha atau yang lebih dikenal dengan Mekongga mempunyai makna arti seperti Poiaha.

Ukuran bangunan ini luas, besar, dan berbentuk segi empat yang terbuat dari kayu dan diberi atap berdiri diatas tiang- tiang besar dan tingginya kira-kira mencapai 20 kaki dari atas tanah.

Bangunan ini digunakan Sebagai tempat bagi raja untuk menyelenggarakan acara-acara yang bersifat seremonial atau upacara adat.

Pada masa silam rumah adat ini terletak disebuah tempat yang terbuka dalam hutan yang dikelilingi oleh rumput alang-alang. Dulu bangunan ini tingginya sekitar 60-70 kaki.

Struktur Rumah adat Mekongga ini terdiri dari

  • 12 (dua belas) tiang peyangga yang bermakna 12 orang pemimpin yang berpengaruh
  • 30 (tiga puluh) anak tangga yang bermakna 30 helai bulu dari sayap burung Kongga
  • 4 (empat) ruang/bilik.

Rumah Adat Laikas (Malige)

Rumah Adat Laikas (Malige)
rivorma.com

Rumah adat Laikas ini merupakan rumah adat yang berasal dari suku Tolaki yang tinggal sekitar kota Kendari, Kabupaten Konawe.

Bentuk Rumah adat Laikas (Malige) ini berbentuk rumah panggung seperti kebanyakan rumah adat pada umumnya. Rumah ini bisa terdiri dari 3 – 4 lantai.

  1. Bagian kolong berfungsi untuk menyimpan binatang ternak seperti ayam atau babi.
  2. Lantai pertama dan kedua berfungsi untuk tempat tinggal oleh raja dan permaisuri.
  3. Lantai ketiga berfungsi untuk penyimpanan benda pusaka,
  4. Lantai keempat berfungsi untuk semedi atau beribadah.

Ada ruangan khusus pada bagian kiri dan kanan lantai kedua yaitu terdapat ruangan  yang gunakan untuk menenun pakaian atau kain tradisional yang disebut bone.

Terdapat hal yang unik dari rumah adat Laikas atau Malige ini yaitu tidak menggunakan bahan logam seperti paku, rumah ini menggunakan bahan 100% dari alam yaitu kayu.

Bagian atap terbuat dari rumbai alang-alang/nipah, tiang terbuat dari Balok kayu, dinding atau badan rumah dari papan. Dan untuk menyatukan semua bahan bangunan digunakan pasak kayu atau serat kayu.

Rumah Adat Banua Tada

Rumah Adat Banua Tada
rivorma.com

Rumah adat Banua Tana hampir sama dengan Rumah adat Laikas yaitu bahan material utamanya ialah kayu tanpa menggunakan paku.

Nama rumah adat ini di ambil dari kata Banua Tada terdiri dari dua kata, yang berarti Banua rumah dan Tada artinya siku. Secara harfiah, Banua Tada yaitu rumah siku.

Rumah adat Banua Tada ini terbagi dalam 3 jenis, yaitu

  1. Kamali atau malige : yaitu rumah atau istana tempat tinggal bagi raja berserta keluarganya,
  2. Banua tada tare pata pale : yaitu rumah siku bertiang empat tenpat tinggal dengan pejabat dan pegawai istana.
  3. Banua tada tare talu pale : yaitu rumah siku bertiang tiga tempat tinggal bagi orang biasa.

Sebelumnya kami juga sudah membahas rumah adat Sulawesi Selatan dalam artikel Kebudayaan Sulawesi Selatan. Jangan lupa untuk membacanya juga ya! Hehe

Pakaian Adat – Kebudayaan Sulawesi Tenggara

Pakaian Adat Sulawesi Tenggara
silontong.com

Pakaian adat dari daerah Sulawesi Tenggara merupakan informasi yang cukup penting untuk kita ketahui, karena banyak hal menarik dari pakaian ini, mulai dari corak, warna, model sampai dengan untuk acara apa dikenakan.

Langsung saja berikut ini beberapa nama pakaian adat yang terdapat di Sulawesi Tenggara.

Pakaian Adat Suku Muna

Pakaian Adat Suku Muna
antarafoto.com

Suku Muna ini mendiami Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Pakaian kaum pria suku Muna ini adalah baju bhadu yaitu bajunya berlengan pendek seperti baju model sekarang, dan warnanya putih, dipadukan dengan sarung (bheta), celana (sala), dan kopiah (songko) atau ikat kepala (kampurui).

Ikat kepalanya berupa kain bercorak batik dan Ikat pinggang yang dipakai terbuat dari logam dan berfungsi untuk penguat sarung dan menyelipkan senjata tajam.

Pakaian untuk kaum perempuan suku Muna biasanya mengenakan bhadu bheta yaitu berupa baju berlengan pendek dan berlengan panjang. Baju ini biasanya terbuat dari kain satin dipadukan dengan ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo.

Wanita Muna mengenakan baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango untuk pakaian sehari-hari dan memakai sarung, tambahan aksesoris berupa kalung bulat yang terbuat dari logam, dan gelang yang terbuat dari emas sedangkan gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning untuk kaki.

Pakaian Adat Suku Tolaki

Pada masa silam, pakaian semacam ini hanya dikenakan oleh golongan bangsawan atau yang memiliki jabatan tertentu di masyarakat. Namun, sekarang masyarakat Tolaki bisa memakai pakaian ini untuk pengantin, acara adat, atau acara-acara resmi lainnya.

Pakaian lelaki terdiri atas babu ngginasamani yaitu baju yang sudah diberi hiasan berupa sulaman, dengan paduan celana yang disebut saluaro mendoa, ikat pinggang (sul epe) yang terbuat dari logam, serta daster (pabele).

Pakaian perempuannya disebut babu ngginasamani, sarung nya bernama sawu, sulepe, dilengkapi dengan aksesoris seperti

  • Tusuk konde dan hiasan sanggul berupa kembang-kembang yang dibuat dari logam
  • Andi-andi (anting-anting)
  • Eno-eno (kalung leher)
  • Bolosu (gelang tangan)
  • Kakinya beralaskan solop (selop).

Pakaian Adat Buton

Pakaian Adat Buton
wikimedia.org

Masyarakat Buton pada kebanyakan memakai pakaian biru-biru yang terdiri dari sarung dan ikat kepala tanpa pakaian. Agar sarung terlihat kuat, dililitkan kain ikat pinggang yang diberi aksesoris jambul atau rumbai yang disebut kabokena tanga.

Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala, yang dikenal dengan biru-biru.

Sedangkan untuk Pakaian perempuan sehari-hari dikenal dengan sebutan baju kombowa. Pakaian ini terdiri dari unsur baju dan kain sarung bermotif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu.

Bentuk baju ini yaitu berlengan pendek dan tidak berkancing. Terdapat dua sarung yang dikenakan. Sarung yang di dalam dililitkan di bagian pinggang dan lebih panjang dari pada sarung yang di luar. Selain itu, kaum wanita juga menambahkan gelang, cincin, dan anting dari emas.

Masyarakat Buton juga memiliki pakaian khusus upacara adat, memingit gadis yang dikenal dengan posuo. Upacara posuo untuk memingit gadis yang telah menginjak dewasa. Gadis yang dipingit harus memakai pakaian kalambe.

Ada juga pakaian khusus untuk anak yang akan disunat. Anak ini memakai pakaian adat yang bernama ajo tandaki. Tandaki merupakan mahkota. dan yang boleh memakainya adalah anak dari golongan bangsawan (kaomu).

Kesenian Tradisional – Kebudayaan Sulawesi Tenggara

Kesenian yang berasal dari Sulawesi Tenggara ini meliputi tarian, alat musik, lagu daerah dan senjata tradisional. Berikut ini penjelasannya.

Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara

Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara
pinimg.com

Tarian adat dari daerah Sulawesi tenggara ini cukup menarik untuk kita bahas pada kesempatan kali ini. Sebelumnya kami juga sudah membahas tarian adat Sulawesi Tengah dalam artikel kebudayaan Sulawesi Tengah. Jangan lupa untuk membacanya juga ya! 🙂

Berikut ini daftar tarian adat yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara:

  1. Tari adat Dinggu : Yaitu tarian rakyat yang menggambarkan sifat kompak Tolaki ketika musim panen padi.
  2. Tari adat Mowindahako : Tarian ini dilaksanakan hanya bagi bangsawan atau anakia, tidak semua lapisan masyarakat dapat melaksanakannya.
  3. Tari adat Umoara : Yaitu salah satu tarian tradisional Sulawesi Tenggara yang identik dengan kepahlawanan.
  4. Tarian adat Malulo : Yaitu tarian sakral dan penuh filosofis, namun dalam perkembangannya Malulo saat ini menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat.
  5. Tari adat Galangi : Yaitu tarian yang asalnya dari kepulauan Buton Raya provinsi Sulawesi Tenggara.
  6. Tari adat Lariangi : Yaitu tarian yang digelar dan fungsinya sebagai tari pembukaan suatu acara pesta pertemuan sebagai penghormatan terhadap tamu yang hadir.
  7. Tari adat Lumense : Yaitu tarian yang berasal dari daerah kecamatan Kabaena, kabupaten Bombana. Pemujaan terhadap sang dewa adalah makna dari tari ini.
  8. Tari adat Moida-ida : Yaitu tarian yang saat pertunjukkanya diiringi dengan nyanyian dan alat musik tradisional.
  9. Tari adat Balumpa : Yaitu tarian rakyat Buton dan Wakatobi Binongko, Sulawesi Tenggara untuk mengucapkan selamat datang kepada tamu agung.
  10. Tari adat Mangaru : Yaitu merupakan sejenis tarian perang yang berasal dari Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara.
  11. Tari Adat Lulo : Yaitu merupakan tarian ritual adat karena melimpahnya rezeki yang didapat melalui hasill panen yang berasal dari Tokotua, kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Alat Musik Daerah Sulawesi Tenggara

Alat Musik Daerah Sulawesi Tenggara
silontong.com

Alat musik tradisional Sulawesi Tenggara (Kendari) memiliki banyak ciri khas dan keunikan tersendiri, ciri khas ini tentunya memperkaya kesenian Indonesia yang semakin beragam. Berikut ini beberapa daftar alat musik tradisional Sulawesi Tenggara:

  1. Lado-LadoLado-Lado ini termasuk alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara digesek. Alat musik ini terbuat dari kayu atau bambu, kemudian dibentuk seperti gitar, bentuknya juga menyerupai Gambus.
  2. GambusGambus adalah sejenis alat musik petik tradisional seperti mandolin yang berasal dari timur tengah dan mengalami perkembangan di Sulawesi Tenggara. alat musik yang mirip gitar ini hanya memiliki senar yang hanya tiga senar paling banyak.
  3. Dimba NggowunaDimba Nggowuna merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu juga rotan. Pada zaman dahulu, alat musik ini dimainkan oleh para kaum wanita disaat mereka bekerja dirumah menenun kain.
  4. Seruling BambuSeruling Bambu juga merupakan salah satu alat musik tradisional yang terdapat di Sulawesi Tenggara. Banyak sekali jenis dari seruling bambu yang ada di Sulawesi Tenggara, ada yang ukurannya sedang, kecil, dan bahkan besar sampai menggunakan dua ruas bambu berukuran cukup besar.
  5. BaasiBaasi ini termasuk kedalam alat musik tradisional Sulawesi Tenggara. Alat musik ini terdiri dari seperangkat alat musik bambu (10 buah). Dimainkan untuk mengiringi lagu daerah dan nusantara pada waktu pertunjukkan.
  6. Ore-Ore NggaeOre-Ore Nggae adalah alat musik tradisional yang terbuat dari bambu dan rotan.  Bentuk dari Ore-Ore Nggae ini seperti Gendang yang berukuran mini.
  7. Kanda WutaKanda Wuta ini terbuat dari kayu, tanah liat, rotan dan pelepah sagu. Lazimnya alat musik ini dimainkan selama tiga malam berturut-turut.
  8. KecapiKecapi merupakan salah satu alat musik musik instrument tradisional yang bentuknya menyerupai bentuk perahu dan terdiri dari dua senar.
  9. Ore-Ore MbonduOre-Ore Mbondu adalah alat musik yang terbuat dari tembaga atau tulang yang telah dilubangi, kemudian diberi tali. Bentuknya mirip seruling dimainkan dengan cara ditiup.

Senjata Tradisional Sulawesi Tenggara

Senjata Tradisional Sulawesi Tenggara
blogspot.com

Ada beberapa tempat bersejarah yang terdapat di Sulawesi Tenggara ini seperti:

  • Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terluas di dunia.
  • Istana Malige di Kota Baubau,
  • Benteng kerajaan Kabaena di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana
  • Benteng Liya yang berada di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Tempat-tempat tersebut menjadi saksi keberadaan sebuah kebudayaan pada masa lampau yang tidak lepas dari alat yang disebut sebagai senjata. Baik senjata untuk berperang, mempertahankan diri maupun senjata dan peralatan tradisional untuk bercocok tanam, berburu dan mengambil hasil pertanian.

Berikut ini beberapa Senjata Tradisional yang ada di Sulawesi Tenggara

  1. Keris Pusaka Emas
    Keris pusaka emas ini merupakan senjata pusaka dari raja – raja di kerajaan Buton.
  2. Keris & Tombak Meantu’u Tiworo Liya
    Keris dan Tombak merupakan senjata tradisional yang sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala tak terkecuali masyarakat Sulawesi Tenggara. Dan senjata ini merupakan peninggalan kerajaan Liya di desa Liya Togo.
  3. Parang Taawu
    Parang Taawu merupakan pusaka bertuah masyarakat suku Mekongga kabupaten Kolaka. dahulu dipergunakan untuk peperangan tetapi pada masa kini hanya sebagai alat bantu untuk mata pencaharian petani.

Penutup

Nah itulah beberapa kebudayaan yang terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara, mudah-mudahan bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari informasi tentang kebudayaan tersebut. Terima Kasih.

1 komentar untuk “Kebudayaan Sulawesi Tenggara”

  1. Pingback: √ Kebudayaan Sulawesi Barat (Rumah, Pakaian, dan Kesenian Lengkap)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top